
Singkawang (Kemenag) – Dalam semangat memperkuat pemahaman akan pentingnya kerukunan dan moderasi beragama, Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang melalui Sub Bagian Tata Usaha menyelenggarakan Dialog Kerukunan Intern Umat Kristen dan Pembinaan Moderasi Beragama, Rabu (21/05). Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari Penyuluh Agama Kristen, Guru Pendidikan Agama Kristen, Pengawas PAK, serta staf di lingkungan Kemenag Singkawang.
Bertempat di Operation Room Kantor Kemenag, acara dibuka secara resmi oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Aliyansah, yang mewakili Kepala Kantor. Dalam sambutannya, Aliyansah menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi merupakan bagian dari tugas pokok Kementerian Agama, khususnya dalam membina umat beragama agar senantiasa hidup rukun dan harmonis.
“Dialog semacam ini harus terus digelorakan sebagai bentuk nyata dari moderasi beragama. Selain menjadi media silaturahmi, kegiatan ini memperkuat kebersamaan serta meningkatkan pemahaman keagamaan yang damai dan toleran,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk pribadi yang moderat. Dalam penjelasannya, ia menyampaikan teori pendidikan berbasis tahapan usia, di mana pendidikan karakter mendominasi pada masa anak-anak dan bertransformasi menjadi pengetahuan serta keterampilan di tingkat perguruan tinggi. “Semua itu harus berjalan beriringan, karena karakter dan ilmu pengetahuan adalah bekal penting dalam kehidupan,” tambahnya.
Sebagai pemateri pertama, Aliyansah juga menekankan peran strategis guru dan penyuluh agama dalam menanamkan tiga nilai utama: membangun sikap menyenangkan orang lain, menumbuhkan simpati dan empati, serta mewujudkan kehidupan yang saling melengkapi satu sama lain. Ia berpesan agar setiap insan pembelajar membawa “gelas kosong” ke mana pun pergi, siap menerima ilmu baru dari siapa saja.
Materi kedua disampaikan oleh Pendeta Jonson Damanik, yang mengulas tentang pentingnya membangun kerukunan internal umat Kristen dan menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Dalam paparannya, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadi duta perdamaian yang mampu menjembatani perbedaan dalam semangat kasih dan persatuan.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum membangun solidaritas, mempererat persaudaraan, serta memperkuat komitmen bersama dalam merawat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. (MD/skw)