
Singkawang (Kemenag) – Kepala Kantor Kemenag Kota Singkawang H. Muhlis melakukan monitoring pelaksanaan Computer Based Test Musabaqah Qira’atil Kutub (CBT MQK) di Pondok Pesantren Nurusshibyan dan Pondok Pesantren Asy-syafiiyah pada Kamis (19/06). Pada pelaksanaan CBT MQK di hari ketiga tersebut ada 9 santri jenjang Ulya yang berjuang menunjukkan kemampuan terbaiknya di bidang Hadis – Ilm Hadis, Tauhid, dan Nahw di dua titik lokasi tersebut. Mereka terdiri dari 6 santri dari PP Asy-syafiiyah dan 3 santri dari PP Nurusshibyan.
Dalam kesempatan tersebut Muhlis menyampaikan apresiasinya kepada para santri yang mewakili Kota Singkawang dalam ajang kemampuan membaca dan memahami kitab kuning tersebut. “Terpilih mewakili pondok masing-masing saja sudah menjadi catatan prestasi tersendiri,” ujarnya. “Semoga memperoleh hasil terbaik dan dapat tampil di MQK tingkat nasional,” pungkasnya.
Selain memantau langsung pelaksanaan CBT Sesi I di kedua pesantren tersebut, H. Muhlis juga berkesempatan becengkerama dengan para ustadz dan operator yang mendampingi siswa melaksanakan CBT. “Alhamdulillah, pelaksanaan CBT MQK di pesantren kami sejak hari pertama lancar tanpa kendala,” demikian Ustadz Mat Sholeh, Operator PP Nurusshibyan. Seluruh santri yang kami daftarkan, berjumlah 11 orang, juga mengikuti CBT sesuai jadwal, tidak ada yang absen,” imbuh Ustadz Yusni yang pada tahun ini mendapat amanah sebagai Koordinator MQK Pesantren Nurusshibyan.
Laporan senada juga diterima Muhlis ketika berkunjung ke Pesantren Asy-syafiiyah. “Alhamdulillah, semuanya lancar, tidak ada masalah dengan perangkat maupun jaringan internet,” tutur Kiai Wendri, pimpinan Pesantren yang menerima secara langsung kunjungan Kepala Kantor Kemenag, didampingi tim teknis Ustadz Devi Arvian, Ustadz Rio, serta Koordinator MQK Ustadz Rizky Anugerah. “Tahun ini adalah pengalaman perdana kami mengirimkan santri mengikuti ajang MQK. Ada 15 santri yang kami kirim, putra dan putri, dan mewakili semua jenjang, mulai Ula, Wustho, hingga Ula,” timpal Ustadz Rizky Anugerah,
Terkait materi yang diujikan dalam CBT MQK, salah satu peserta dari PP Ash-shomadiyah, yaitu Sultan Fariz menuturkan, “Soal-soal dalam CBT MQK ini cukup sulit dan semuanya dalam Bahasa Arab.” Hal ini diceritakan Sultan Faiz kepada Liana Aisyah dan Sri Utami dari Seksi Pendidikan Islam Kantor Kemenag Singkawang ketika melakukan monitoring di pesantren tersebut pada hari kedua pelaksanaan CBT MQK, Rabu (18/06/2025).
Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Abdul Malik, Pimpinan Pesantren Ash-shomadiyah menyampaikan bahwa berdasarkan pengalaman santri dan pengamatannya, partisipasi 4 santrinya dalam CBT MQK tahun ini memberikan banyak pelajaran, baik untuk para santri maupun untuk pimpinan dan ustadz sebagai penyelenggara pendidikan pesantren. Pertama, pentingnya para ustadz dan santri melek digital. “Meskipun menguasai materinya, jika tidak menguasai sisi teknis CBT, akan kesulitan untuk menjawab soal dengan cepat,” terangnya. Lebih lanjut Ustadz Malik juga mengungkapkan pentingnya penguasaan Bahasa Arab bagi para santri. “Model ujian dalam CBT yang full dalam Bahasa Arab ini insya Allah akan kami adopsi dalam evaluasi pembelajaran kitab kuning di pondok kami sehingga mudah-mudahan ke depannya santri kami lebih siap mengikuti ajang kompetisi semacam ini,” pungkasnya.
Berlangsung selama 3 hari, mulai Selasa hingga Kamis, 17-19 Juni 2025, kegiatan CBT MQK ini diikuti oleh 30 santri dari 3 pondok pesantren Kota Singkawang. Mereka bersaing dengan para santri lainnya dari seluruh Kalimantan Barat untuk mewakili provinsi dalam MQK Nasional ke-8 sekaligus MQK Asia Tenggara pertama pada Oktober 2025. (Liana/Skw)