
Singkawang (Kemenag) – Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Katolik (KKG-PAKat) Kota Singkawang menggelar kegiatan peningkatan kompetensi bagi guru agama Katolik tingkat dasar se-Kota Singkawang Tahun 2025 dengan mengangkat tema “Peran Guru Agama Katolik sebagai Pewarta, Pendidik dan Teladan”, Selasa (06/05/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Restoran Taman Teratai Indah ini dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang, H. Muhlis, yang secara resmi membuka acara. Turut hadir Penyelenggara Katolik, Elisabet Eli Yohanis, dan staf Gamaliel Ardianus. Selain itu, Pembimas Katolik Provinsi Kalimantan Barat, Yosep Somen, serta Ns. Egidius Umbu Ndeta hadir sebagai narasumber yang membagikan pengalaman dan wawasan dalam bidang pendidikan agama Katolik.
Acara diawali dengan laporan dari Ketua Panitia sekaligus Ketua KKG-PAKat Kota Singkawang, Apolinaris, yang menyampaikan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya berkelanjutan dalam mempersiapkan guru-guru agama Katolik agar semakin profesional dan relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Dalam sambutannya, H. Muhlis menegaskan pentingnya mencintai profesi sebagai guru. “Apapun latar belakang kita sebelumnya ketika memilih menjadi seorang guru, cintailah pekerjaan tersebut, karena dengan mencintai pekerjaan maka kita akan merasa cukup,” ucapnya menginspirasi para peserta yang hadir.
Lebih lanjut, H. Muhlis memperkenalkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta yang digagas oleh Menteri Agama. Kurikulum ini bertujuan menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berjiwa kasih, peduli, dan siap berkontribusi positif untuk masyarakat dan bangsa melalui pendekatan pendidikan yang menekankan pada pengembangan karakter, kasih sayang, toleransi, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai penutup sambutannya, H. Muhlis mengingatkan pentingnya merawat keberagaman di tengah masyarakat. “Perbedaan adalah anugerah Tuhan, kita harus senantiasa menghargai, menerima, dan mensyukuri keberagaman yang ada. Karena dengan menghargai perbedaan, kita dapat hidup rukun dan menciptakan lingkungan yang harmonis,” tuturnya dengan penuh semangat.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran guru agama Katolik sebagai pewarta nilai-nilai Kristiani, pendidik yang penuh kasih, serta teladan dalam kehidupan berbangsa yang majemuk. (GamavanArd/skw)