
Singkawang (Kemenag) – Dalam upaya memperkuat pendidikan karakter dan keimanan siswa Katolik, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang, Elisabet Eli Yohanis, melakukan pertemuan dengan Kepala SMPN 20 Singkawang, Tendri Solong, pada Senin (16/06). Pertemuan ini membahas rencana pembinaan khusus bagi siswa Katolik di sekolah yang belum memiliki guru pendidikan agama Katolik.
Langkah ini merupakan wujud perhatian nyata pemerintah terhadap kebutuhan spiritual peserta didik, khususnya di sekolah-sekolah umum yang belum mampu menyediakan tenaga pendidik agama sesuai keyakinan siswa. Rencana pembinaan akan dilaksanakan rutin setiap awal tahun ajaran dan akhir semester, sebagai momen refleksi sekaligus pembekalan iman.
“Kami ingin memastikan bahwa siswa Katolik tetap mendapatkan pendampingan rohani yang layak meskipun mereka berada di sekolah umum. Pembinaan ini akan menjadi ruang bagi mereka untuk memperdalam iman, memahami ajaran gereja, dan menumbuhkan karakter Kristiani yang kuat,” ungkap Elisabet Eli Yohanis.
Kepala Sekolah SMPN 20 Singkawang, Tendri Solong, menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh kegiatan pembinaan tersebut. “Kami menyadari pentingnya pembinaan spiritual dalam membentuk karakter siswa. Dengan adanya kolaborasi ini, siswa Katolik di sekolah kami bisa tetap berkembang secara utuh, baik dari sisi akademik maupun iman,” ujarnya.
Pembinaan yang dirancang tidak hanya fokus pada aspek doktrinal, tetapi juga akan mengajak siswa merenungkan nilai-nilai Kristiani seperti kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Kegiatan ini juga akan menjadi wadah interaksi positif antarsiswa Katolik dari berbagai sekolah, memperkuat solidaritas dan semangat kebersamaan.
Program ini diharapkan menjadi model pembinaan yang inspiratif bagi sekolah-sekolah lainnya di Singkawang, khususnya yang belum memiliki guru agama Katolik. Kantor Kemenag Kota Singkawang berkomitmen untuk terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak demi memastikan setiap anak mendapatkan haknya dalam pendidikan agama yang berkualitas.
Melalui kolaborasi ini, benih iman yang ditanamkan sejak dini diharapkan mampu tumbuh menjadi karakter kuat yang membentuk generasi muda Katolik yang cerdas, beriman, dan berintegritas. (Mika/skw)