
Singkawang (Kemenag) – Yayasan Pendidikan Khalishah Singkawang, bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Singkawang, sukses menggelar workshop lintas agama bertajuk “Duduk Bersama Menjaga Kota Tertoleransi”. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Toleransi dan Bhinneka Tunggal Ika dalam memperingati Hari Kerukunan Beragama Kementerian Agama RI Tahun 2024.
Acara yang berlangsung selama dua hari ini resmi dibuka pada Jumat (29/11) oleh Kepala Kantor Kemenag Singkawang, H. Muhlis. Turut hadir Ketua FKUB Singkawang Baharuddin, para pengawas madrasah, pengawas sekolah keagamaan, serta perwakilan penyuluh agama dari IPARI (Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia) dan guru Agama se-Kota Singkawang sebagai peserta.
Dalam sambutannya, H. Muhlis mengapresiasi inisiatif pembentukan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Lintas Agama. Ia menegaskan bahwa organisasi ini dapat menjadi sarana mempererat hubungan antaragama. “Berbeda itu indah, bukan sesuatu yang menakutkan. Kebhinekaan adalah keniscayaan, sesuatu yang berbeda jangan dipaksakan untuk disama-samakan, sebaliknya sesuatu yang sudah sama jangan dipaksakan untuk dibeda-bedakan,” ujarnya.
Muhlis juga menyatakan bahwa di Penyuluh sudah ada IPARI yang sebelumnya inovasi dari Kepala Kantor adalah dibentuknya MAPELIA (Majelis Penyuluh Lintas Agama), namun setelah 1 tahun terbentuk, barulah muncul IPARI, sehingga kini menjadi bagian dari penguatan kerukunan. Ia berharap MGMP Lintas Agama mampu menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan untuk memajukan pendidikan dan membangun masyarakat yang harmonis.
Khusnul Ma’arif, Pembina Yayasan Pendidikan Khalishah sekaligus panitia penyelenggara, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat moderasi beragama, terutama melalui pendidikan agama. Salah satu langkah strategisnya adalah pembentukan MGMP Pendidikan Agama Lintas Agama di tingkat kota.
“MGMP ini diharapkan dapat meningkatkan komunikasi, kerja sama, dan pengembangan profesionalisme guru lintas agama. Selain itu, kurikulum agama yang berwawasan moderasi beragama akan menjadi prioritas,” jelas Khusnul.
Ia menambahkan bahwa program ini merupakan upaya membangun generasi yang toleran dan menghormati keberagaman. “Semoga MGMP ini menjadi wadah produktif bagi guru lintas agama untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan menciptakan inovasi pendidikan yang bermanfaat bagi masa depan bangsa,” pungkasnya.
Workshop kali ini menghadirkan narasumber Prof. Ibrahim selaku Dosen IAIN Pontianak dan Mauluddin selaku Ketua MGMP Lintas Agama Provinsi. Dengan kehadirannya memberikan inspirasi baru dalam membangun kerukunan melalui pendidikan, memperkuat pesan bahwa keberagaman adalah kekayaan yang harus dijaga. Kota Singkawang, yang dikenal sebagai kota paling toleran di Indonesia, sekali lagi menunjukkan komitmennya untuk menjadi teladan kerukunan umat beragama. (MD/skw)