
Singkawang, Senin, (17 Februari 2025), Semerbak harum dupa dan bunga menyelimuti saat perayaan Hari suci Magha Puja,berjalan dengan penuh keyakinan dan makna dari hari raya. Diawali dengan pelaksanaan perwujudan cinta kasih dari seluruh umat Buddha dengan “ pelepaskan burung “ agar kembali hidup bebas setelah terkurung disangkar. Dilanjutkan dengan Pradaksina/Padakkhina “ memberi penghormatan dengan beranjali mengelilingi Vihara/Cetiya searah jarum jam sebanyak tiga kali dengan konsentrasi menguncarkan paritta suci“. Pada saat Dhammadesana Bhikkhu,menjelaskan peristiwa yang terjadi pada Hari suci Magha Puja yaiutu memperingati empat peristiwa penting, yaitu “ Seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu datang berkumpultanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Mereka semuanya telah mencapai tingkat kesucian arahat, Mereka semuanya memiliki enam abhinna, Mereka semua ditasbihkan oleh Sang Buddha dengan ucapan “Ehi Bhikkhu”.
Peristiwa tersebut dinamakan Caturangga-sannipata, berarti pertemuan besar para arahat yang diberkahi dengan empat faktor, yaitu seperti peristiwa hari suci Magha Puja. Peristiwa penting ini terjadi hanya satu kali dalam kehidupan Buddha Gotama/Buddha Sakyamuni, yaitu pada saat purnama penuh di bulan Magha (Februari), tahun 587 Sebelum Masehi ( sembilan bulan setelah Sang Buddha mencapai penerangan sempurna / Bodhi). seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu datang secara serempak pada waktu yang bersamaan, tanpa adanya undangan ataupun perjanjian sebelumnya ke kediaman Sang Buddha di vihara Veluvana (Veluvanarama, yang berarti hutan pohon bambu) di kota Rajagaha. Mereka datang dengan tujuan untuk memberi hormat kepada Sang Buddha sekembalinya mereka dari tugas menyebarkan Dhamma dan melaporkan hasil penyebaran Dhamma yang telah mereka lakukan tersebut. Serta sangat istimewa para bhikkhu yang berkumpul pada peristiwa Magha Puja tersebut telah mencapai tingkat kesucian tertinggi, yaitu arahat. Mereka telah berhasil membasmi semua kilesa atau kekotoran batinnya sampai keakar-akarnya, sehingga mereka dikatakan telah khinasava atau bersih dari kekotoran batin. Mereka tidak mungkin lagi berbuat salah. Mereka telah sempurna.
Penulis : Tjia Kong Min, S.E., S.Ag (Kepala Seksi Urusan Agama Buddha)